AHLAN WA SAHLAN..... WELCOME.... SELAMAT DATANG...

Bagi para blogger selamat berbagi pengalaman, antara kita memang berbeda, tapi tidak mustahil kalau terkadang fikiran kita sama dan searah... meski raga kita terpisah jauh... apakah fikiran dan tujuan kita juga jauh... tentu tidak... di sinilah aku berusaha untuk berbagi dalam cinta dan kasih... Cinta dapat membuat kita hidup bahkan sebaliknya... namun semua itu ada pada diri kita.. bagaimana menyikapi masalah tersebut...
ingin hidup dengan cinta atau tidak sama sekali tapi jangan pernah sekali-kali mati dengan atau karena cinta... kecuali cinta kepada Nya... selamat menuai Cinta.. karena cinta bagian dari kita... Semangat dan Salam Cinta.. untuk sang pengembara yang selalu berusaha...

Sabtu, 03 Maret 2012

filsafat hidup - Henri Bergson

     Seorang tokoh berdarah campuran Perancis - Yahudi, Henri-Louis Bergson (lahir di Paris, Perancis, 18 Oktober 1859 – meninggal di Paris, Perancis, 4 Januari 1941 pada umur 81 tahun) merupakan seorang filsuf Perancis yang berpengaruh besar terutama pada awal abad ke 20. Ia lahir dari seorang ibu berdarah Inggris dan seorang ayah berdarah Yahudi Polandia. Sebagian besar masa produktifnya dihabiskannya sebagai seorang dosen filsafat dan seorang penulis. Bergson pernah memperoleh nobel untuk sastra pada 1927. dan melahirkan filsafat hidupnya sebagai reaksi atas pandangan materialisme dan pragmatisme.
     Menurut Bergson, Hidup adalah suatu tenaga eksplosif yang telah ada sejak awal dunia, yang berkembang dengan melawan penahanan atau penentangan materi (yaitu suatu yang lamban yang menentang gerak, dan dipandang oleh akal sebagai materi atau benda). manakala gerak perkembangan hidup itu digambarkan sebagai gerak ke atas, materi adalah gerak ke bawah yang menahan gerak ke atas itu. dalam perkembangannya sebagai gerak ke atas, hidup mempunyaipenahanan gerak ke bawah. hal ini mengakibatkan hidup terbagi-bagi menjadi arus yang menuju banyak jurusan, yang tetap memiliki kecakapannya untuk berbuat secara bebas dan dengan terus berjuang keluar dari genggaman materi.
     Bergson yakin akan adanya evolusi, tetapi tidak seperti yang diajarkan Darwin. Evolusi yang menggambarkan evolusi sebagai perkembangan linear (segaris), yang satu sesudah yang lain dengan manusia sebagai puncaknya. menurut Bergson, evolusi adalah suatu perkembangan yang menciptakan, yang meliputi segala kesadaran, segala hidup, segala kenyataan, yang dalam perkembangannya terus-menerus menciptakan bentuk baru dan menghasilkan kekayaan baru. evolusi ini tidak terikat oleh keharusan seperti keharusan yang tersirat dalam hukum sebab-akibat mekanis. Evolusi-demikian menurut-Bergson bukan bergerak ke satu arah di bawah dorongan suatu semangat hidup yang bersifat umum, tetapi evolusi itu berkembang ke arah bermacam-macam. pada tumbuh-tumbuhan, perkembangan itu kandas dlam bentuk-bentuk yang tanpa kesadaran, pada binatang, perkembangan itu berhenti dalam naluri sedangkan pada manusia, perkembangan itu berlangsung sampai ke akal.
     
     Naluri adalah tenaga bawaan kelahiran guna memanfaatkan alat-alat organis tertentu dengan cara tertentu. kerja naluri terjadi otomatis, tanpa memberi tempat pada spontanitas atau pembaharuan. naluri semata-mata diarahkan pada kepentingan kelompok atau rumpunnya oleh karena itu, sifat individual ditaklukkan kepada sifat kelompok.

     Akal yang dimiliki manusia merupakan kecakapan untuk menciptakan alat kerja bagi dirinya dan secara bebas mengubah-ubah pembuatan alat kerja itu. akal mencakapkan manusia untuk menyadarkan diri akan kepentingan individu. akan tetapi, akal tidak dapat dipakai untuk menyelami hakikat yang sebenarnya dan segala kenyataan. sebab, akal adalah hasil perkembangan, yaitu perkembangan dalam rangka proses hidup. akal itu timbul karena penyesuaian manusia. dengan akalnya, manusia dapat menyesuaikan diri dengan dunia sekitarnya. oleh karena itu, akal memiliki fungsi praktis. itulah sebabnya, akal tidak dapat menyelami hakikat yang sebenarnya dari segala kenyataan. akal hanya berguna bagi pemikiran ilmu fisika dan matematika, tetapi akal tidak berguna bagi penyelaman ke dalam hakikat segala sesuatu.

     Intuisi diperlukan untuk menyelami hakikat segala kenyataan. Intuisi adalah tenaga rohani, suatu kecakapan yang dapat melepaskan diri dari akal, kecakapan untuk menyimpulkan serta meninjau dengan sadar, Intuisi adalah naluri yang telah mendapat kesadaran diri, yang telah dicakapkan untuk memikirkan sasarannya serta memperluas sasaran itu menurut kehendak sendiri tanpa batas.

     Bergson membagi agama pada dua macam : pertama, agama statis, dan kedua agama dinamis.
1. Agama statis ialah agama yang timbul karena hasil karya perkembangan. dalam perkembangan ini, alam telah memberikan kepada manusia kecakapan untuk menciptakan dongeng-dongen yang dapat mengikat manusia yang seorang dengan yang lain dan bahwa ia harus mati. karena akalnya juga, manusia tahu bahwa ada rintangan-rintangan yang tak terduga sehingga menghalangi usahanya untuk mencapai tujuannya. Alam telah membantu manusia untuk memikul kesadaran yang pahit ini dengan khayalan-khayalan. demikianlah, akhirnya timbul agama sebagai alat bertahan terhadap segala sesuatu yang dapat menjadikan manusia putus asa.

2. Agama yang dinamis adalah agama yang diberikan oleh intuisi. dengan perantaraan agama inilah, manusia dapat berhubungan dengan asas yang lebih tinggi yang lebih berkuasa dari pada dirinya sendiri. bentuk agama yang paling tinggi adalah mistik yang secara sempurna terdapat dalam agama Kristen. itulah filsafat hidup Bergson yang besar sekali pengaruhnya di Perancis. ketika ia membahas agama Kristen, yang berarti sebagai pegangan hidup karena ia agama yang paling tinggi.
     Bagi Bergson, filsafat adalah kesadaran dan refleksi yang merujuk pada data yang langsung diperoleh dari intuisi. ia mengklasifikasikan akal sebagai suatu fakulti personal, sambil menekankan bahwa setiap filosof secara sadar terlebih dahulu mengikuti titik pandang yang dipilihnya. ia menganggap filosof sebagai orang yang menghadapi pemikiran yang esensial untuk menemukan kondisi-kondisi dari totalitas pengetahuan
(Juhaya S. Pradja, 200 : 118 - 120). 
     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"tak ada gading yang tak retak"